Showing posts with label Economy. Show all posts
Showing posts with label Economy. Show all posts

Thursday, September 1, 2011

Meningkatkan Kualitas Pegawai Negeri Sipil

Beberapa hari yang lalu saya kumpul bersama teman-teman lama dari kampus. Salah seorang dari mereka bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Jakarta. Oleh karena topik moratorium (penghentian sementara) rekruitmen dari PNS masih hangat, saya mencoba mengulik darinya tentang kondisi PNS di Indonesia saat ini.

Sebagai pengantar jumlah PNS di Indonesia saat ini sekitar 4.6 juta orang (sumber: Badan Kepegawaian Negara). Dibawah saya sudah coba buat chart mengenai distribusi PNS Indonesia berdasarkan tingkat usia & pendidikan.

Dilihat dari tingkat usia, PNS dengan usia 46-50 dan 41-45 mendominasi komposisi berdasarkan usia. Kondisi ini bukan hal yang baik untuk produktivitas dan regenerasi. Jika kelompok usia ini pensiun, kelompok usia yang dibawahnya tidak cukup untuk mengisi pos yang ditinggalkan. Selanjutnya, hal yang mengejutkan, ternyata banyak dari PNS yang hanya lulusan SMA saja, 40% dari jumlah populasi.

Apakah hal tersebut ada hubungannya dengan tingkat produktivitas PNS saat ini? mungkin.. Dengan didominasi kelompok usia bukan angkatan muda, produktivitas PNS pun tidak sekuat itu. Saya pun cukup kaget dengan dominasi lulusan SLTA, yang sebenarnya bukan lulusan SLTA tapi juga terdapat lulusan SD, SLTP yang saya gabung dengan SLTA. Di posisi apa mereka bekerja? posisi clerical kah? Hal diatas menjustifikasi perilaku sebagian besar PNS (saya tidak katakan seluruhnya) yang bekerja kurang dari 8 jam sehari dan di kantor pun hanya melakukan kerjaan yang tidak penting.

Akhirnya saya berhenti pada kesimpulan bahwa jumlah PNS sudah tidak efektif dan efisien lagi dibanding output yang dihasilkannya. Oleh karena itu, selain setuju terhadap moratorium yang dilaksanakan oleh pemerintah, saya mempertimbangkan beberapa hal yang dapat meningkatkan produktivitas dari para PNS. Visinya adalah membuat culture PNS seperti culture pegawai swasta.

1. Setelah di stop input PNS baru lewat moratorium, naikkanlah gaji PNS disertai dengan meningkatkan bobot kerja PNS tersebut. Oleh karena jumlah pegawai berkurang, beban kerja per pegawai akan semakin bertambah. Hal in fair dengan peningkatan gaji untuk para PNS tersebut.

2. Paksakan sistem rewards & punishment yang ketat. Jangan pulang sebelum 8 jam bekerja. Tapi beri bonus yang jelas apabila karyawan tersebut berprestasi. Saya menyarankan seluruh kementerian meng-hire konsultan HR terkemuka seperti Hay Group untuk mengantisipasi hal ini.

3. Stop penggunaan seragam PNS coklat-coklat. Sepertinya hanya di Indonesia saja penggunaan seragam untuk para PNS. Di negara-negara maju sana, para public servant menggunakan pakaian bebas sama seperti karyawan kantoran lainnya. Hal ini untuk mengadopsi corporate & professional culture di kalangan para PNS.

4. Tawarkan program pensiun dini. Program ini bertujuan untuk mengurangi PNS dengan kelompok usia less-productive (41-50). Mengurangi jumlah PNS lewat input saja tidak cukup. Perbesar juga output.

5. Untuk posisi-posisi clerical, pemerintah dapat menggunakan jasa pegawai kontrak. Hal ini bertujuan untuk menjaga tingkat efisiensi jumlah pegawai permanen. Dengan ditingkatkannya bobot kerja dan remunerasi, para PNS semestinya hanya berkonsentrasi di pekerjaan-pekerjaan yang non clerical. Hal ini juga dapat mengurangi komposisi PNS dengan lulusan hanya setingkat SLTA yang hanya mengerjakan pekerjan-pekerjaan clerical. 

Jika memang ingin merubah kondisi PNS, dibutuhkan niat dan kesabaran yang tinggi. Akan banyak painful-adjustment yang dihadapi di kemudian hari. Akan tetapi hal tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan.



Sunday, August 14, 2011

How Much Do Oil and Gas Contribute to The State Revenue?

Minyak dan Gas adalah salah satu komoditas utama Indonesia. Catatan saya kali ini akan membahas mengenai kontribusi minyak dan gas terhadap penerimaan negara.

Dibawah adalah grafik penerimaan negara dari sektor migas yang disandingkan dengan cost recovery untuk memperoleh migas tersebut dan grafik produksi migas Indonesia disandingkan dengan Indonesia Crude Price (ICP).
Source: Data Pokok APBN & Statistik Migas KESDM
Source: Data Pokok APBN & Statistik Migas KESDM

Diperlihatkan pada grafik 1, penerimaan migas mengalami tren penurunan dari tahun 2006 hingga 2011. Hal ini berlawan dengan apa yang terjadi pada tingkat produksi dan harga di grafik 2. Meskipun terjadi fluktuasi tingkat produksi migas dan harga, tren yang terjadi adalah peningkatan dari tahun 2006 hingga 2011.

Penyebab dari kontrasnya penerimaan dengan produksi dan harga adalah meningkatnya Cost Recovery untuk memperoleh minyak dan gas tersebut. Karakteristik dari sumur-sumur migas di Indonesia adalah sumur-sumur tua yang sudah memasuki fase Low Pressure. Dalam dunia migas, semakin tua sumur, semakin tinggi biaya yang dibutuhkan untuk mempertahankan tingkat produksi.

Lalu, seberapa besar kontribusi penerimaan migas ini terhadap keuangan negara?

Dibawah ini adalah grafik tingkat kontribusi penerimaan migas terhadap total penerimaan negara (baik dari pajak dan non pajak).

Source: Data Pokok APBN 2005-2011
Sejalan dengan penurunan penerimaan migas, kontribusi migas pada penerimaan negara juga mengalami penurunan. Tren penurunan kontribusi malah lebih besar dari penurunan penerimaan migas (slope garis tren kontribusi yang lebih curam daripada tren penerimaan). Hal ini juga disebabkan karena meningkatnya penerimaan negara dari sektor perpajakan dan non pajak-non migas.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari beberapa kondisi diatas adalah untuk menjaga tingkat kontribusi migas, tingkat Cost Recovery harus dijaga seefisien mungkin. Tantangan yang dihadapi BPMIGAS beserta para kontraktor kerja sama asing kedepan adalah semakin berat, berusaha untuk menjaga level produksi dan juga menjaga tingkat efisiensi dari Cost Recovery.

Saturday, August 6, 2011

How Indonesia Define Itself in the Future World

Melalui akun twitternya, @dinopattidjalal men-share video speech dari Gita Wirjawan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dalam International Futurology Conference, yang berlangsung 28 Juli 2011 di Jakarta.

Saya belum pernah melihat Gita Wirjawan berbicara di depan publik sebelumnya. Kali pertama ini benar-benar membuat saya terpukau. Baik dari materi yang beliau berikan dan juga cara beliau menyampaikan materinya.


Disampaikan dengan Bahasa Inggris bagaikan seorang native speaker, Gita mempresentasikan perkiraan bagaimana posisi dan kondisi Indonesia 10, 20, sampai 40 tahun mendatang sampai dengan 2050.

Digambarkan, Indonesia akan menjadi Raksasa Ekonomi di abad ke-21 ini, saat kekuatan ekonomi dunia bergeser dari Amerika Utara dan Eropa ke Asia.

Dengan GDP Indonesia saat ini sebesar USD 720 miliar, IMF dan Standard Chartered memprediksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh menjadi USD 9 triliun di 2030. Posisi Indonesia dalam GDP dunia digambarkan dalam grafik dibawah:


Dengan financial profile yang dimiliki saat ini (GDP nomor 17 dunia, growth 6.6%, inflasi 4.7%), Indonesia menjadi destinasi yang sexy untuk berinvestasi.

Untuk menjadi kekuatan ekonomi utama dunia di abad ini, Indonesia harus memperkuat infrastruktur yang dapat dibagi kedalam tiga jenis: Hard Infrastructure, Soft Infrastructure, dan Digital Infrastructure.

Posisi Indonesia dalam segi hard infrastructure dapat dinilai dari variabel steel per capita dimana Indonesia mengonsumsi baja hanya 30 kg/capita/tahun. Sebagai perbandingan, Korea Selatan mengonsumsi 1020 kg/capita/tahun baja. Negara maju rata-rata mengonsumsi baja sebesar 500 kg/capita/tahun.

Untuk soft infrastructure, Indonesia harus memperkuat pendidikan dan ketersediaan pangan. Dengan pendidikan yang memadai, Indonesia dapat bermimpi untuk memiliki Steve Jobs dari Papua atau peraih nobel dari Sulawesi di masa depan.

Dalam digital infrastructure, penetrasi broadband internet di Indonesia yang hanya 18% saja dapat dijadikan tolak ukur. Akan tetapi 80% dari penduduk Indonesia telah memanfaatkan teknologi mobile phone, dan 50% penggunaan internet diakses melalui mobile phone. Kedepannya, Indonesia harus dapat meningkatkan penggunaan internet sebagai sarana penujang ekonomi dan juga pendidikan.

Demikianlah ulasan speech dari Gita Wirjawan yang menurut saya amat menarik. Tidak salah SBY memilih beliau sebagai Marketer-nya Indonesia sehingga dapat menarik banyak investor untuk berinvestasi disini.

Selain Gita, Dino Patti Djalal, dan Anis Baswedan pun memberikan speech-nya dalam konferensi ini. Perkiraan saya sih, ketiga putra Tanah Air tersebut akan menjadi The Next Big Things-nya Indonesia di masa depan. Semoga.

Wednesday, August 3, 2011

2050: The Asian Century

Tadi siang saya membuka situs Asian Development Bank (ADB), http://beta.adb.org/publications/asia-2050-realizing-asian-century. Terdapat laporan menarik yang disajikan oleh ADB mengenai Asia yang akan mengalami pertumbuhan ekonomi sangat pesat dalam abad ini. Bahkan, ADB menyebutkan bahwa abad ini adalah abadnya Asia, The Asian Century.

Menurut saya laporan ini sangat menarik dan memotivasi kita sebagai bangsa Indonesia dan Asia.
Oleh karena itu, saya merangkum poin-poin penting dari laporan ADB tersebut:

1.
Di tahun 2050, income per capita Asia akan menyamai Eropa sebesar USD 48,000/capita. GDP Asia akan
mencapai USD 170 triliun. Digambarkan, Asia akan mengulangi masa jayanya seperti tahun 1200 - 1700
sebelum adanya Revolusi Industri. Hal ini disebabkan pertumbuhan penduduk dan tingginya pertumbuhan
perekonomian Asia saat ini.

2.
Terdapat tujuh negara pemimpin ekonomi Asia yang akan membawa kebangkitan ekonomi Asia di masa
depan: China, India, Indonesia, Japan, South Korea, Thailand, Malaysia. 3 dari Asia Timur, 1 dari Asia
Selatan, dan 3 dari Asia Tenggara. Ketujuh negara ini memiliki total jumlah penduduk 3 miliar (78% dari
keseluruhan Asia) dan total GDP $14.2 triliun (87% dari keseluruhan Asia).

3.
Ada 6 tantangan yang harus ditanggulangi negara-negara Asia menuju Asian Century di 2050:
    a. Inequality, gap antara the rich and the poor yang selalu menjadi masalah utama negara-negara
        berkembang
    b. Ancaman akan terkena Middle Income Trap, akan dijelaskan lebih lanjut di poin berikutnya
    c. Keterbatasan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (migas, batubara, dll) dimana 7 negara 
        utama tersebut masih membutuhkan sumber daya alam untuk meningkatkan standar hidup rakyatnya
    d. Makin besarnya perbedaan income dalam suatu regional. Contoh, di ASEAN negara termakmur adalah
        Singapura $56,000/capita sementara paling miskin adalah Laos $2400/capita
    e. Global Warming dan Climate Change. Negara-negara Asia masih mengandalkan sektor agrikultur
        sebagai motor penggerak ekonomi yang mana terancam oleh badai, banjir bandang, dan kekeringan sebagai
        akibat perubahan iklim yang drastis
    f. Poor governace dan Korupsi yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi dan bocornya pendapatan negara.

4. Middle Income Trap.

Middle Income Trap adalah suatu keadaan dimana negara yang sudah masuk golongan middle income tidak
dapat mempertahankan pertumbuhan ekonominya. Negara-negara yang terjebak dalam middle income trap ini
akan kalah bersaing dalam cheap labor dengan negara-negara berincome rendah dan tidak bisa mengejar
inovasi dengan negara-negara berpendapatan tinggi.
   
Berikut adalah grafik yang menggambarkan negara berpendapatan menengah yang berhasil terus tumbuh dan
negara yang terjebak dalam Middle Income Trap

Source: Asia 2050 Executive Summary, ADB
   
Grafik dibawah menunjukkan skenario apabila Asian Century dapat tercapai vs apabila negara-negara Asia terjebak dalam Middle Income Trap.


Source: Asia 2050 Executive Summary, ADB

Semoga Indonesia dapat merealisasikan mimpinya menjadi Ekonomi Utama Asia.

Wednesday, July 27, 2011

Lapindo Mud -> Mad!

Saya baru baca di media bahwa Pemerintah akan bayar korban Lapindo senilai Rp. 1.2 triliun!!

Mari berandai-andai, apabila pemerintah kita tegas, berhasil menekan PT Lapindo Brantas untuk bertanggung jawab atas tragedi Lumpur di Porong, maka duit sebesar 1.2 triliun yang jika diconvert ke dollar berarti sekitar 141 MUSD bisa dipakai untuk

Membiayai pemboran 24 sumur gas di Blok Mahakam, yang bisa memproduksi 18,7 kilo barrel oil perhari, yang dapat dijual seharga 650 juta USD..
Bayangkan returnnya.. keluar modal 141 MUSD, bisa dapat 650 MUSD. Berarti returnnya sebesar 4.6 kali..

Membantu nambah-nambahin dana Social Security Network atau SJSN penduduk tidak mampu yang dibudgetkan sebesar 588 MUSD. Dengan 141 MUSD, lumayan.. 20% telah tertutupi..

Kontribusi 10% untuk merenovasi Bandara Soekarno-Hatta yang baru (total budget Rp 11.7 triliun) atau kontribusi 8% untuk bangun MRT Jakarta tahap 1 (total budget Rp 16 triliun)


Source: 2.bp.blogspot.com
Yah, akan tetapi kasus ini kental sekali politisnya. Fenomena yang jelas-jelas diidentifikasi sebagai human-error (sudah dikonfirmasi oleh pakar perminyakan) malah diputarbalikkan menjadi bencana alam.

Saya iri melihat Barack Obama menekan British Petroleum untuk bertanggung jawab atas blow-out nya sumur di Gulf of Mexico :(

Sunday, July 24, 2011

Kisruh film Hollywood

Kementrian Keuangan (Kemenkeu) akhrinya mengizinkan Omega Film untuk mengimpor film-film Hollywod. Harry Potter 7.2 dan Transformer 3 akan tayang akhir bulan Juli ini. Siapa pula Omega Film ini? menurut penuturan Ilham Bintang, dalam akun twitternya @ilhambintang, ternyata Omega Film adalah perusahaan bentukan pemilik Cineplex 21, yang juga membawahi dua perusahaan importir film yaitu PT Camilla Internusa dan PT Satya Perkasa.

Kedua perusahaan pengimpor film tersebut diblokir tidak bisa mengimpor film lagi oleh Ditjen Bea Cukai karena menunggak bea masuk dan dendanya sebesar Rp 250 miliar. Wow, jumlah tersebut sekitar setengah dari jumlah subsidi BBM oleh pemerintah. Hal ini masih bagian episode kisruhnya film Hollywood di Tanah Air.

Pembentukan Omega Film ini adalah rekayasa para penunggak tersebut sehingga mereka dapat mengimpor kembali. Meskipun Kemenkeu sudah mengetahui hal ini dan mencekal Omega, akhirnya izin toh diberikan juga.

Ada dua isu dalam kisruh Film Hollywood ini. Pertama, penetapan tarif pajak film impor yang baru. Kedua, penyelesaian tunggakan bea masuk tersebut. Untuk isu pertama sudah terselesaikan. Pemerintah dan importir sepakat menggunakan dasar perhitungan baru yaitu berdasarkan durasi film. Sebelumnya besaran pajak didasarkan pada jumlah penonton film tersebut. Kalau filmnya laku, bayarnya besar, kalau sedikit penonton, ya sedikit pula pajaknya. Nah, berarti untung di importir dong, bisa mendatangkan banyak film. Dengan dasar perhitungan pajak yang baru, per durasi, importir akan lebih selektif mendatangkan film. Semestinya film-film yang diyakini banyak penggemarnya saja yang akan masuk. Hal ini juga memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi film-film nasional.
Isu kedua, ini yang berat, tidak jelas bisa terselesaikan atau tidak. Konon Kemenkeu mendapatkan tekanan dari orang-orang yang dekat dengan Cikeas saat mereka berkeras meminta pembayaran tunggakan bea masuk tersebut. Kita doakan saja supaya bisa terselesaikan.

Saya tidak bisa memberi solusi taktis atas masalah ini. Pasti kita semua ingin kembali menikmati film-film Hollywood dan negara tetap menerima pembayaran pajak dari para importir. Satu hal yang menurut saya penting, sebagai penikmat film hendaknya kita tidak egois. Jangan hanya karena tidak bisa menonton film-film Hollywood favorit, lantas kita marah-marah terhadap pemerintah. Menurut saya, mereka memang menjalankan tugasnya kok, yaitu menagih bea masuk/pajak film. Kedepannya diharapkan para importir taat membayar pajak. Malah jika importir tersebut kembali membandel, kita bisa stop menonton film di bioskop sebagai bentuk kepedulian kita terhadap penerimaan negara (ini agak terlalu ekstrim sih hehe..).
Selamat menikmati kembali film-film Hollywood...

Saturday, July 23, 2011

We Love The Country So Much

Beberapa minggu lalu, saya melihat interview Sri Mulyani Indrawati (SMI) dengan Charlie Rose, jurnalis Bloomberg. Banyak sekali informasi berguna yang saya dapatkan dari wawancara tersebut. Mulai dari isu-isu nasional, seperti preferensi masyarakat Indonesia terhadap partai politik hingga isu-isu internasional seperti kelangkaan pangan dan pergolakan di Arab.


Satu yang menarik perhatian saya dan bisa membuat saya berkata: "I feel you, Bu.." adalah saat Charlie Rose bertanya, "Kekuatan apa yang Anda miliki sehingga berani melakukan itu (perjuangan melawan korupsi) ?" SMI menjawab, "We love the country so much.."

Di negeri ini, ada kecenderungan mencurigai orang-orang yang dekat dengan asing, pernah bekerja di institusi asing, sekolah di luar negeri, atau punya hubungan dengan pihak asing, adalah orang-orang yang tidak nasionalis atau sudah menjadi antek-antek barat. Buat saya pribadi, itu tidak benar adanya. Hakikatnya, orang-orang yang pernah sekolah, bepergian, atau bekerja di luar negeri akan termotivasi untuk membangun tanah air karena mereka telah melihat hal-hal baik di negeri asing yang bisa diterapkan di Indonesia.

Saya sering backpacking ke luar negeri. Negara-negara yang saya kunjungi rata-rata lebih maju daripada Indonesia. Apakah saya jadi malas tinggal di Indonesia? Tidak. Justru malah semakin termotivasi berkontribusi untuk negeri ini. Bayangkan betapa puas dan bangganya apabila kita bisa membuat sesuatu yang kita cintai menjadi lebih baik, apalagi jika start from the the scretch.

Saya jadi ingin bertanya kepada para koruptor dan para pelanggar aturan, apakah sudah sebegitu hilangkah rasa cinta Anda pada negeri ini? Apakah tidak ingin melihat negeri ini semaju negara-negara maju lainnya?

Yaaah.. cinta memang subjektif.. :)

Subsidi BBM

Kemarin, 22 Juli 2011, akhirnya pemerintah membatalkan pencabutan subsidi BBM.

Jumlah subsidi BBM pada APBN-Revisi 2011 ini sebesar Rp. 592,08 milliar atau setara dengan USD 68 juta. Jikalau diconvert ke dalam BOE, duit USD 68 juta tersebut bisa menambah produksi minyak nasional sebanyak 9403 barrel/hari, yang mana nilai tersebut lumayan untuk mengejar target produksi kita sebanyak 970 ribu barrel/hari.

Pencabutan subsidi BBM ini juga berguna karena dananya dapat dialihkan untuk penambahan pembiayaan Sistem Jaringan Sosial Nasional (SJSN) yang sedang happening beberapa hari ini. SJSN, menurut Eks Menkes Siti Faadilah Supari, membutuhkan dana sebesar Rp. 40 triliun. Sebanyak 12,5% (memakai prosentase jumlah penduduk miskin Indonesia) dari Rp. 40 triliun tersebut, atau sekitar Rp. 5 triliun, akan ditanggung pemerintah untuk dialokasikan kepada penduduk miskin. Nah, duit sebesar 592 miliar tadi menjadi lumayan untuk mengurangi nomboknya pemerintah dalam proyek SJSN tersebut....

Selain untuk SJSN, dana subsidi BBM juga tentunya bisa dialihkan untuk proyek-proyek infrastruktur di ibukota maupun di daerah.
Murahnya BBM ini juga memberikan efek kepada konsumsi kendaraan di Indonesia. Dengan jumlah kelas menengah yang semakin meningkat di Indonesia, murahnya BBM ini menjadi pendorong penjualan mobil dan motor. Sebagai informasi, tingkat produksi mobil di Indonesia meningkat setiap tahunnya dan sekarang berada di posisi 760 ribu mobil per tahun, siap menyalip Thailand di 1 juta mobil per tahun. Bisa kita bayangkan, bagaimana nasib Jakarta jika penjualan mobil semakin meningkat...
Satu lagi, sebagai tambahan informasi, harga BBM di Indonesia ini ternyata paling murah diantara negara-negara ASEAN..

Tentunya, pencabutan subsidi ini tidak akan selalu happy ending bagi semua pihak. Dunia industri akan terpukul oleh pencabutan subsidi ini. Harga-harga akan naik, inflasi naik, biaya naik, growth melambat. Tapi efek samping ini sebenarnya dapat dikurangi dengan mengurangi Ekonomi Biaya Tinggi yang masih menjerat Indonesia. Apa penyebab Ekonomi biaya tinggi di Indonesia? Korupsi dan birokrasi yang bertele-tele adalah beberapa contohnya.  

Kebijakan publik seperti subsidi BBM ini bukanlah suatu perkara yang mudah, tapi jika kita memimpikan suatu bangsa yang mandiri, kita harus berani untuk mengambil keputusan yang sulit dan terkadang painful.