Tuesday, November 1, 2011

Indonesia is Having Growing Pain

Anak dari salah seorang rekan saya mengalami demam yang cukup tinggi. Rekan saya tersebut bercerita bahwa bisa saja penyebab dari sakitnya si anak adalah virus atau bakteri. Akan tetapi, bos saya berujar kepada rekan saya tersebut bahwa mungkin anaknya terkena "growing fever".

Menurut si bos, growing fever bisa terjadi pada balita/anak yang sedang mengalami perubahan aktivitas, contohnya baru belajar merangkak, belajar jalan, atau sedang senang-senangnya berlari. Tubuh dari anak tersebut mengalami perubahan metabolisme seiring dengan pertumbuhan aktivitas-aktivitasnya. Antibodi si anak bekerja merespon perubahan ini, sehingga munculah demam atau rasa sakit. Menurutnya, hal ini dapat dijelaskan secara medis.

Akhirnya karena penasaran saya cari-carilah di internet. Memang tidak ada istilah resmi dari Growing Fever karena yang ada adalah Growing Pain. Definisi growing pain yang saya dapatkan di http://kidshealth.org/parent/general/aches/growing_pains.html adalah sakit yang dirasakan anak karena proses alamiah tumbuhnya tulang. Growing pain juga wajar dialami anak ketika mereka melakukan aktivitas seperti berlari atau memanjat.

Nah saya menganalogikan kondisi diatas dengan apa yang di alami Indonesia saat ini. Sering kita merasa bahwa negera ini didera banyak sekali permasalahan mulai korupsi, kekerasan horizontal, kebebasan berpendapat yang kebablasan, dan yang lainnya. Saya sampai kepada suatu pemikiran bahwa Indonesia mengalami growing pain.

Bebas dari era Orde Baru yang tersentralisasi, tertutup, dan represif kemudian masuk kedalam era Reformasi yang terdesentralisasi, terbuka, dan bebas mewajibkan bangsa ini mengalami painful adjustment. Kita merasakan kenapa banyak sekali kasus korupsi yang terungkap, seakan-akan situasi sekarang lebih buruk dari masa Orde Baru.

Apakah memang demikian? menurut saya tidak. Korupsi dan abuse of power justru rentan terjadi pada kepemimpinan sentralistik dan tertutup. Apakah bisa disimpulkan bahwa KKN oleh keluarga Soeharto dan kroninya lebih baik dari korupsi yang terjadi saat ini? Apakah bisa dimaklumi bahwa pelanggaran HAM di zaman Soeharto seperti kasus Timor Timur, Tanjung Priok, Aceh, Papua lebih baik dari sekarang ini?. Saya tidak menyangkal bahwa kasus korupsi masih banyak terjadi di zaman sekarang tetapi sebenarnya lebih berbahaya korupsi yang tidak berani dibuka sama sekali oleh media seperti di zaman Orde Baru.

Berikutnya mengenai kebebasan berpendapat. Mengutip pernyataan @ulil di twitter, "Mengkritik penguasa resikonya besar sekali, sekarang mengkritik SBY, bisa membuat seseorang populer dan menjadi media-darling". Saya sama sekali bukan penggemar SBY, tapi jika membandingkan kebebasan berpendapat dan kebebasan media, kita harus mensyukuri kondisi yang kita alami sekarang.

Banyak yang berpendapat sekarang kebebasan media dan berpendapat sudah kebablasan. Kebablasan tersebut muncul karena masih belum dewasanya masyarakat dalam mencerna dan menganalisa permasalahan. Apalagi sekarang media dikuasasi oleh kepentingan-kepentingan politik. Pihak-pihak yang tidak suka dengan pemerintahan sekarang akan memberitakan isu secara tidak seimbang demi kepentingan golongannya semata.

Lalu apa solusinya? apakah harus dibatasi kebebasan berpendapat? Saya jawab tidak. Ini adalah proses yang harus dilewati bangsa Indonesia dalam berdemokrasi. Ingat, kita hanya baru melewati 14 tahun dari mulainya awal era reformasi. Periode yang begitu muda untuk menjadi bangsa demokrasi yang dewasa. Amerika Serikat dan Perancis membutuhkan 200 tahun lebih untuk menjadi role model bangsa berdemokrasi berkualitas di dunia ini. Inggris malah lebih lama lagi. Solusinya, selama melewati growing pain ini, masyarakat harus dapat mencerna dan menganalisa lebih dalam lagi opini-opini yang berkembang di media.

Saya berharap Indonesia dapat melewati demamnya ini dengan mulus. Butuh waktu yang lama tetapi bukan suatu kemustahilan untuk dijalani.



No comments:

Post a Comment